Dalam renungan yang saya baca, hati saya terperosok cukup dalam ketika membaca :
"Tuhan tidak menjebloskan manusia ke neraka. Para pemberontak yang akhirnya berada di neraka memilih untuk tinggal di sana."
Sungguh kalimat ini membuat saya berpikir ulang dan sangat keras mengenai kehidupan dimana saya berada. Saya percaya keberadaan surga dan neraka. Iman saya menyatakan bahwa jalan kebenaran dan hidup hanyalah Yesus. Saya penganut iman kristiani. Dan justru hal itulah yg membuat saya kembali berpikir. Iman yang saya anuti ini apakah telah menjelma dalam pola tingkah saya. Apakah saya termasuk dalam lingkup manusia yg memberontak dan memilih tinggal dalam neraka?
Kata-kata selanjutnya yang tak kalah menampar adalah ungkapan C.S. Lewis : "Pada akhirnya akan ada dua macam orang: orang-orang yang berkata kepada Tuhan, 'Jadilah kehendak-Mu, ' dan orang-orang yang kepadanya Tuhan berkata, 'Jadilah kehendakmu.'"
Aaahh..mengerikan..sungguh mengerikan jika Tuhan sampai mengatakan hal itu.
Saya adalah si kepala batu dlm keluarga. Segala larangan dan aturan yang difatwakan papa akan saya mentahkan dan hampir selalu saya langgar. Pernah suatu kali saya dilarang untuk pergi bersama teman2 rekreasi ke pantai. Papa dan mama melarang saya sehingga saya murka dan merajuk. Jika mengingatnya sungguhlah saya malu.. Ketika sudah bosan mereka melarang (dan telah menyampaikan alasan yg padahal sangat masuk akal) namun selalu mendapat respon oposisi dari si kepala batu maka mereka berkata "terserah, lakukanlah kehendakmu."
Pada titik itu saya selalu akan diam dan menyerah. Karena ketika mereka megatakan hal itu menandakan kesedihan akibat penolakan saya atas perhatian yg mereka berikan.
Pengalaman itu serupa dg peringatan C.S.Lewis. Ketika kita manusia selalu berjibaku dan melawan kehendak Tuhan maka akan ada titik dimana Tuhan berkata "jadilah kehendakmu". Apa jadinya kita tanpa Tuhan. Sebagaimana pikiran saya ketika kecil (bahkan hingga skrg) apa jadinya saya tanpa orang tua.
Penolakan-penolakan kita atas perhatian dan kasih sayang Tuhan akan membawa kita dalam kesendirian menjalani kehidupan. Tanpa sandaran jiwa, tanpa problem solver, dan yang lebih fatal "Tanpa Harapan".
Saya ingat..ketika berdoa seringkali sukar untuk mengucapkan "jadilah kehendakMu atas hidupku". Sungguh. Karena ketika saya mengucapkan itu maka saya harus siap menanggalkan keinginan saya. Ada rasa takut kehendak Allah tidak sejalan dengan kehendak saya. Sehingga selalu saya menyisipkan kalimat "jika boleh, bersepakatlah dengan kehendakku Tuhan".
Hahahah..saya tau..itu kalimat bodoh. Saya akui..saya memang masih harus belajar banyak tentang makna berserah..berserah pada Tuhan.
Sungguh Tuhan..jadilah kehendakMu atasku..
Mohon dukungan doa untuk saya sudah 5 tahun sakit stroke dan insomnia. Terima kasih. Melchior Suroso
BalasHapus