Minggu, 12 Februari 2012

Ritme yang Dia Taklukkan

Dia memilih duduk diam di tepi kasur.
Rokok kemarin malam yang belum habis terhisap disulutnya kembali.
Aromanya menyengat bagi para kontra rokok. Namun dengan itulah dia menenangkan isi otaknya.

Pertengkaran kemarin cukup hebat. Hingga pagi ini Dia terbangun sendiri.
Tidurnya tanpa mimpi. Dia bertekad untuk tidak bermimpi sebelum impian dasarnya tercapai.
Telah lama Dia memendamnya. Berharap dan meyakinkan diri bahwa pilihannya akan mendukung impian Dia.
Salah. Kesalahan besar.
dia hanya menginginkan sebuah keluarga. kehidupan tenang. pemasukan yang dapat dipastikan. dan merancang pengeluaran agar mudah dikontrol. Dia menganggap hal itu bukan impian. Bagi Dia itu hanya kegilaan. Kegilaan adalah menyerahkan hidup pada ritme. bagi Dia manusia memiliki hak dasar mengatur ritme. untuk perbedaan itulah mereka bertengkar. Yah..kesunyian antara Dia dan dia meledak malam itu.

"Kopimu" sodor dia.
Dia hanya bergeming, menyesap dalam rokoknya yang telah ganti baru.
Mereka pun bergelut dalam kesunyian.
"Pagi ini aku pergi." cetus Dia
"Mengapa?"
"Ada ritme yang harus kuatur. Mimpiku diluar sana."
"Dan aku tidak dapat menjadi bagian dari mimpimu?"
"Entah..mungkin bisa. Namun lebih baik tidak. Aku tidak menawarkan rutinitas, kepastian. Kau akan mati gila karenanya. Seperti aku akan mati gila dalam keteraturanmu."
"Pergilah kalau begitu. Kau tahu dimana aku ketika telah lelah. Kapanpun itu."

Dia beranjak, meraih gitar dan kotak rokok terakhirnya. 
Dia pergi dalam sunyi. Baginya lebih baik tanpa perpisahan. Toh mereka tetap berada dalam dunia yang sama, hanya menempuh jalan berbeda.


Perbedaan tidak masalah.
Namun menjadi masalah ketika kita menyeragamkan perbedaan itu. terutama kepada orang lain.
Tidak ada kegilaan, hanya perbedaan saja yang ada.

Jangan takut atas kegilaanmu..perbedaanmu maksudku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar